Jumat 01 Agustus 2014
skpd

PAGELARAN PESONA KREASI SENI DAN BUDAYA KABUPATEN SAMOSIR TAMPIL MEMPESONA PADA PEKAN RAYA SUMATERA UTARA YANG Ke-38

Dalam mewujudkan Kabupaten Pariwisata 2010, Kabupaten Samosir Menggelar Aksi Pesona Kreasi Seni dan Budaya pada Pekan Raya Sumatera Utara ke-38 yang menampilkan Grup Seni Budaya Sianjur Mula-mula (legenda Dalihan Na Tolu ), Totor Parsiarabu, Grup Musik Batak Marsada, dan Grup Tari SMP Negeri 2 Simarmata yang mempersembahkan tor-tor Siburuk, Sibunga Jambu, dan Gondang Naposo serta Grup Uning-uningan yang memainkan Musik tradisional Batak.

Pada acara Tersebut, hadir Bupati Samosir Ir. Mangindar Simbolon, Wakil Bupati Samosir, Ober P Sihol Sagala, SE, Anggota DPRD Kabupaten Samosir Drs. Abad Sinaga, SKPD se-Kabupaten Samosir dan Tokoh masyarakat Perantau asal Samosir dan ribuan pengunjung, Jumat (27/3), di Panggung Utama PRSU Medan.

Dalam sambutannya, Drs. N.D Malau yang sebagai Tokoh perantau asal Samosir dan Pemakrasa Mengatakan Kabupaten Samosir sebagai Kabupaten yang memiliki potensi besar sebagai industri Pariwisata adalah milik dunia bukan saja milik Bangso Batak dan perlu dipromosikan kepada dunia luar agar nantinya Samosir sebagai tujuan wisata akan dikenal dunia dan may berkunjung sebagai wisatawan. Lebih lanjut beliau menghimbau kepada Pemerintah Kabupaten Samosir dalam pelaksanaan pembangunan harus transparan dapat berfikir secara jernih, objektif, bijaksana dan pro rakyat agar program pemerintah dapat terlaksana dengan baik dan meningkatkan kesejahteraan mayarakatnya. Kami sebagai masyarakat Samosir yang ada di perantauan bersedia memberikan sumbang saran pendapat tentang pembangunan Samosir kedepan termasuk pelestarian seni budaya dan mendoakan agar cita-cita Kabupaten Samosir menjadi Kabupaten Pariwisata dapat terwujud sesuai dengan Visi dan Misinya. Pada kesempatan itu N.D Malau meyumbangkan dana sebesar 5 Juta Rupiah untuk pembinaan dan pelestarian budaya Batak di Bona Pasogit.

Bupati Samosir Ir. Mangindar Simbolon dalam sambutannya mengatakan bahwa Pagelaran Pesona Kreasi Seni dan Budaya ini bertujuan untuk mengembangkan kepariwisataan Samosir melaui penampilan Seni dan Budaya yang setiap tahunnya terus meningkat kualitas dan kelestariannya. Budaya Batak merupakan salah satu modal dalam mewujudkan industri pariwisata yang sejak tahun 2006 sudah kita sepakati. Melalui Seni dan Budaya yang akan ditampilkan pada Pagelaran Pesona Kreasi Seni dan Budaya ini untuk mendukung program Pariwisata Kabupaten Samosir serta sebagai rasa penghargaan kepada Siraja Batak asal mula orang Batak sebagai pencipta pertama Seni dan Budaya Batak.

Seni dan Budaya Batak haruslah kita pelajari dan dilestarikan agar tidak terdegradasi dan perlu penelitian secara tertulis sehingga para generasi muda dapat memahami seperti seni budaya Bali yang tertulis sehingga dapat dikembangkan sesuai aslinya. Kalaua kita lihat diperantauan seperti di Jakarta seni budaya Batak dapat dipentaskan karena punya sanggar dan group contohnya seperti Opera dan Tari-tarian bukan seperti di masyarakat Samosir belajar secara otodidak. Saya yakin apabila seni budaya dipelajari para generasi muda akan dapat diandalkan sebagai salah satu produk pariwisata yang digemari para wisatawan. Dalam pembangunan Samosir kita tidak lepas dari manegement "PARGOTSI" dimana Pargotsi dapat memainkan alat musik yang berbeda tetapi menghasilkan irama dan seni yang enak didengar. Pargotsi pada jamannya dapat mendatangkan roh pada acara adat yang dilaksanakan masyarakat seperti penyampaian permohonan kepada Mulajadi Na bolon (Yang Maha Kuasa), nenek moyang bahkan kepada lingkungan, tegas Bupati Samosir.

Pada acara pagelaran para pengunjung yang hadir pada acara ini khususnya perantau yang berasal dari Samosir merasa puas dengan menikmati persembahan dari sanggar seni dan budaya Kabupaten Samosir dengan penampilan Opera dari Sianjur mulamula dengan judul legenda asal muasal Dalihan Natolu yang menceritakan Siboru Manggale yang merupakan penjelmaan sebuah patung menjadi manusia dengan peranan tiga orang (pandai kayu, pedagang emas dan ulos, dukun) yang mempunyai andil sehingga disebut boru yang datang dari khayangan. Sehingga 3 orang tersebut diputuskan oleh Raja, Siboru manggale diserahkan kepada anak muda yang tinggal kampung itu. Raja memutuskan pandai kayu sebagai orang tua

si Boru Manggale, pedagang emas dan ulos sebagai orang tua anak muda (amang boru), sedangkan si dukun diposisikan sebagai hula-hula (paman). Semenjak itulah keluar Filsafat Batak yang disebut Dalihan Natolu yang berazaskan hormat kepada hula-hula (somba marhula-hula), hati-hati terhadap sesama ( manat mardongan tubu denggan tu dongan sahuta), membujuk anak perempuan(elek marboru). Dalam kesempatan itu Grup Musik Marsada juga menghibur acara tersebut dengan mempersembahkan beberapa lagu unggulan seperti, O Tano Batak, Tao Toba, Samosir Na Jogi dan beberapa lagu hits lainnya yang membuat penonton semakin terpukau.

Dan pada 04 April mendatang Kabupaten Samosir juga akan ikut serta dalam perlombaan pakaian pengantin adat tradisional yang dimana pesertanya dari Kabupaten/Kota Se-Propinsi Sumatera Utara.(Tim Liputan Humas).

SAMOSIR DALAM ANGKA

Aspiring Geopark

HITS

Website counter